وَاِّذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِّ نْ بَنِّْٰيٓ ’ادَمَ مِّنْ ظُهُوْرِّهِّمْ ذُ ِّ’ريَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَ ’ٰلٓى اَنْفُسِّهِّ “مْ اَلَسْتُ بِّرَبِّ’كُ مْ قَالُوْا بَ ’ل ى شَهِّدْنَ ا اَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِّ ’يمَةِّ اِّنَّا كُنَّا عَنْ ’هذَا ’غفِّلِّيْ نَ (QS: al-A’raf-172)

Pertanyaan yang Salah Arah

Setiap kali orang membicarakan sastra lisan, sebuah perdebatan lama hampir selalu muncul kembali: manakah yang lebih baik menyimpan pengetahuan — tuturan atau tulisan?

Perdebatan ini punya dua kubu yang sama-sama meyakinkan pada pandangan pertama. Kubu pertama memuja tulisan: tuturan dianggap rapuh, mudah berubah, hilang bersama napas penuturnya, sementara tulisan awet, bisa diperiksa ulang, dan tidak bergantung pada ingatan yang fana. Kubu kedua membela tuturan: tulisan dianggap dingin dan tercerabut, sementara tuturan hidup, hangat, penuh konteks, menyatu dengan tubuh dan komunitas. Walter J. Ong, sarjana yang paling berjasa memetakan perbedaan budaya lisan dan budaya tulisan, telah menunjukkan bahwa perbedaan keduanya memang bukan sekadar perbedaan alat — ia menyentuh cara manusia berpikir, mengingat, dan mengorganisasi dunianya.

Namun ada sesuatu yang janggal pada perdebatan ini. Sejak tahun ketumbar, ia tidak pernah benar-benar selesai, dan barangkali bukan karena jawabannya sulit, melainkan karena pertanyaannya keliru arah. Pertanyaan “medium mana yang lebih baik?” mengandaikan bahwa medium adalah persoalan terdalam. Padahal, jika kita menggali sedikit lebih ke bawah, kita akan menemukan sesuatu yang lebih tua daripada teks dan lebih tua pula daripada tradisi tutur yang terlembaga: sebuah peristiwa purba ketika seseorang berdiri di hadapan orang lain dan berkata, “aku ada di sana; percayalah padaku.” Ungkapan pendek ini memuat seluruh persoalan: paruh pertamanya (“aku ada di sana”) mengklaim kehadiran yang tidak dimiliki pendengar, paruh keduanya (“percayalah padaku”) meminta kepercayaan yang belum bisa dibuktikan.

Peristiwa itu bernama kesaksian. Dan tesis yang hendak diuraikan tulisan ini adalah: yang benar-benar berubah sepanjang sejarah kebudayaan bukanlah medium penyimpan pengetahuan, melainkan cara manusia mengelola kepercayaannya terhadap kesaksian. Bunyinya sederhana, tetapi jauh akibatnya. Lisan dan tulisan hanyalah permukaan; kesaksian adalah strukturnya. Jika tesis ini benar, maka sastra lisan perlu dibaca ulang — bukan sebagai teknologi penyimpanan yang kalah oleh teknologi yang lebih baru, melainkan sebagai salah satu cara paling tua umat manusia menjawab sebuah persoalan yang tidak pernah selesai.

Fondasi yang Tersembunyi

Apa itu kesaksian? Dalam pengertian paling dasar, kesaksian adalah peristiwa berpindahnya pengetahuan melalui orang lain, bukan melalui pengalaman sendiri. Seseorang mengetahui Perang Paderi, Tuangku Imam Bonjol begini dan begono, bukan karena menyaksikannya, melainkan karena rangkaian panjang manusia — pelaku, pencatat, guru, penulis buku — yang berkata “ini terjadi.” Bahkan hal yang paling pribadi sekalipun bertumpu pada kesaksian: tidak seorang pun mengingat kelahirannya sendiri; setiap orang mengetahui tanggal lahirnya dari kesaksian ibunya, keluarganya, atau selembar surat yang ditulis orang lain.

Begitu hal ini disadari, sebuah kenyataan yang mengerutkan jidat dirinya: hampir seluruh bangunan pengetahuan manusia berdiri di atas kesaksian. Sejarah jelas bertumpu padanya. Tetapi ilmu pengetahuan pun demikian — tidak ada ilmuwan yang mengulang sendiri semua eksperimen yang mendasari bidangnya; ia mempercayai laporan koleganya. Agama bertumpu pada kesaksian para saksi pertama. Berita, peta, kamus, silsilah keluarga: semuanya adalah kesaksian yang dibakukan. Para filsuf yang menekuni epistemologi kesaksian, dari Thomas Reid pada abad kedelapan belas hingga C.A.J. Coady pada zaman kita, sampai pada kesimpulan yang serupa: kesaksian bukan sumber pengetahuan kelas dua yang menumpang pada pengamatan dan penalaran, melainkan fondasi yang diam-diam menopang hampir segalanya.

Struktur dasar kesaksian selalu melibatkan tiga unsur. Ada saksi, yang mengklaim kehadiran: “aku ada di sana.” Ada penerima, yang justru tidak ada di sana — sebab jika ia ada di sana, ia tidak memerlukan kesaksian. Dan ada jarak di antara keduanya: jarak antara peristiwa yang dialami satu orang dan kepercayaan yang harus diputuskan orang lain. Ketiga unsur ini hadir di mana-mana: pada tukang kaba yang mendendang kaba di hadapan komunitasnya, pada saksi di ruang pengadilan, pada penulis artikel ilmiah di hadapan pembacanya. Medium boleh berganti; struktur ini tidak.

Jurang yang Tak Bisa Ditutup

Unsur ketiga tadi — jarak — layak dicermati lebih dalam, sebab di sanalah letak persoalan filosofis yang sesungguhnya.

Penerima kesaksian tidak pernah bisa memverifikasi sepenuhnya apa yang dikatakan saksi. Ini bukan kelemahan teknis yang kelak bisa diperbaiki dengan alat yang lebih canggih; ini kemustahilan yang bersifat hakiki. Sebab seandainya penerima bisa memeriksa segalanya sendiri, ia tidak lagi menjadi penerima kesaksian — ia menjadi saksi sama dengan orang yang menyaksikan sesuatu tadi. Kesaksian pun tidak diperlukan. Kesaksian, dengan kata lain, hanya ada karena verifikasi total mustahil dilakukan. Jurang antara saksi dan penerima kesaksian bukan cacat pada kesaksian; jurang itu adalah syarat keberadaannya.

Konsekuensinya penting: setiap tindak mempercayai kesaksian selalu mengandung momen ketika kepercayaan diberikan lebih dulu, sebelum bukti bisa menyusul — dan sering kali bukti itu tidak pernah menyusul sama sekali. Momen ini bisa disebut kredit. Kata itu dipilih bukan tanpa alasan: dalam bahasa Latin, credere berarti percaya, dan mekanisme kredit di dunia keuangan meniru persis struktur ini. Bank menyerahkan uang sekarang atas dasar keyakinan bahwa peminjam akan membayar nanti; risiko ditanggung di muka oleh pihak bank yang memberi. Demikian pula pendengar sebuah kesaksian: ia menyerahkan kepercayaannya sekarang, sebagai semacam pinjaman, dan saksi berutang kebenaran sebagai pelunasannya. Saksi melunasi utang itu bukan dengan dokumen, melainkan dengan hidupnya — dengan konsistensi, dengan kesediaan dikonfrontasi, dengan keberanian menanggung malu jika terbukti berdusta. Saksi yang berdusta adalah debitur yang mangkir; dan seperti dalam ekonomi, kepercayaannya bangkrut. Dia diblacklist oleh bank sentral.

Paul Ricoeur, filsuf Prancis yang menghabiskan sebagian akhir hidupnya merenungkan ingatan, sejarah, dan lupa, memberi nama pada jenis kepercayaan yang bekerja dalam situasi semacam ini: attestation. Attestation bukan kepercayaan buta, sebab ia sadar akan risikonya; tetapi ia juga bukan kepastian ilmiah, sebab ia tidak menuntut pembuktian tuntas sebagai syarat. Attestation adalah kepercayaan yang berkata: “aku tahu aku tidak dapat membuktikan ini sampai ke akarnya (total), namun aku memiliki alasan yang layak untuk tetap percaya.” Dalam ungkapan yang lebih sederhana: attestation adalah percaya dengan mata terbuka.

Dengan tiga konsep ini — kesaksian, jurang, dan kredit — persoalan sesungguhnya kini dapat dirumuskan. Jika jurang itu tidak pernah bisa ditutup, maka setiap masyarakat, di setiap zaman, menghadapi tugas yang sama: bagaimana hidup bersama jurang itu? Bagaimana mengelola kredit kepercayaan agar tidak jatuh menjadi kepercayaan buta di satu sisi, atau kecurigaan total yang melumpuhkan di sisi lain?

Makhluk yang Hidup dari Kesaksian

Namun sebelum melihat cara-cara mengelola jurang itu, patut direnungkan sejenak apa artinya jurang tersebut bagi manusia — sebab akibatnya lebih jauh daripada yang tampak. Akibat pertama menyangkut pengetahuan. Sejak Descartes, filsafat modern memelihara sebuah ideal: pengetahuan yang sejati adalah pengetahuan yang dibangun subjek sendirian, dari nol, setelah meragukan segala sesuatu yang belum terbukti. Ideal itu tampak gagah, tetapi struktur kesaksian membongkarnya diam-diam. Peragu paling radikal sekalipun meragu dalam bahasa — dan bahasa itu tidak ia ciptakan sendiri; ia menerimanya dari orang lain, lengkap dengan makna, logika, dan cara membelah dunia yang terkandung di dalamnya. Ia meragukan sejarah dengan membaca dokumen yang ditulis orang lain, meragukan ilmu dengan bertumpu pada laporan yang tidak ia ulangi sendiri. Tidak ada titik nol; setiap manusia selalu sudah berada di tengah jaringan kesaksian sebelum ia sempat memeriksa apa pun. Pengetahuan, dengan demikian, bersifat komunal sampai ke akarnya — bukan karena manusia malas memverifikasi, melainkan karena begitulah bangunan pengetahuan itu berdiri.

Kesimpulan ini mudah disalahpahami sebagai undangan untuk skeptis: jika segalanya bertumpu pada kepercayaan yang tak terbukti tuntas, bukankah segalanya rapuh? Justru sebaliknya. Yang runtuh bukanlah pengetahuan, melainkan definisi rasionalitas yang terlalu sempit. Jika mempercayai kesaksian adalah keniscayaan, maka rasionalitas tidak mungkin berarti menolak percaya; rasionalitas berarti menakar kepercayaan — memutuskan kepada siapa, atas dasar apa, dan seberapa jauh kredit itu layak diberikan. Di sinilah attestation menemukan tempatnya yang sebenarnya: percaya dengan mata terbuka bukanlah kompromi yang terpaksa diterima karena bukti tak tersedia, melainkan bentuk tertinggi dari kecerdasan manusia dalam menghadapi kenyataan bahwa ia tidak pernah bisa memeriksa segalanya sendiri.

Akibat kedua lebih dalam lagi, sebab ia menyangkut bukan apa yang manusia ketahui, melainkan apa yang manusia ada. Perhatikan: dunia yang dihuni setiap orang adalah dunia yang lebih dulu dituturkan kepadanya — nama benda-benda, kisah leluhurnya, bahkan namanya sendiri ia terima sebagai kesaksian. Dan bukan hanya dunia; identitasnya pun berstruktur sama. Ricoeur menunjukkan bahwa keyakinan seseorang tentang dirinya sendiri — bahwa “aku” yang berjanji kemarin adalah “aku” yang sama yang menepatinya hari ini — tidak dapat dibuktikan seperti teorema matematika. Ia hanya dapat di-attest-kan: ditanggung, dipersaksikan, dijalani. Setiap janji, bila direnungkan, adalah sebuah kesaksian tentang diri di masa depan: orang yang berjanji sedang berkata “percayalah, aku yang esok masih akan menjadi aku yang hari ini berkata kepadamu.” Maka jurang kesaksian bukan sekadar persoalan teknis dalam teori pengetahuan; ia adalah kondisi dasar keberadaan manusia bersama manusia lain. Mempercayai dan dipercayai bukan aktivitas tambahan yang bisa dilakukan atau ditinggalkan — itulah salah satu cara paling asasi manusia berada di dunia.

Dua akibat ini bertaut pada satu titik. Karena pengetahuan bertumpu pada kepercayaan dan keberadaan bersama dirajut dari kesaksian, maka pengkhianatan terhadap kesaksian — dusta, pemalsuan, ingkar janji — bukanlah sekadar kekeliruan informasi yang bisa dikoreksi dengan data yang lebih baik. Ia melukai jalinan yang membuat hidup bersama mungkin. Itulah sebabnya hampir semua masyarakat, di semua zaman, menghukum saksi palsu jauh lebih berat daripada orang yang sekadar keliru: yang pertama merusak fondasi, yang kedua hanya salah hitung. Dan karena taruhannya sebesar itu, tidak ada masyarakat yang sanggup membiarkan jurang kesaksian tak terkelola. Sejarah kebudayaan memperlihatkan bahwa manusia telah mengembangkan dua cara besar untuk mengelolanya.

Dua Cara Mengelola Jurang: Integritas dan Prosedur

Cara pertama dapat disebut modus integritas. Di sini, jurang kesaksian dikelola melalui kesesuaian antara perkataan dan perbuatan si saksi. Sebuah komunitas mempercayai cerita karena mempercayai orangnya: hidupnya koheren dengan kata-katanya, ia telah teruji oleh waktu, ia berdiri di tengah komunitas yang setiap saat bisa menagihnya. Legitimasi lahir dari integritas. Jaminan jenis ini bersifat personal dan tak dapat dipindahtangankan — ia melekat pada pribadi seperti wajah melekat pada tubuh. Inilah modus yang dominan dalam masyarakat bertradisi lisan: penutur cerita, tetua adat, atau juru silsilah dipercaya bukan pertama-tama karena isi tuturannya bisa dicek, melainkan karena pribadinya menjadi jaminan.

Cara kedua dapat disebut modus prosedur. Di sini, jurang dikelola melalui sistem: stempel, materai, tanda tangan, nomor registrasi, metode ilmiah, penelaahan sejawat (peer review dalam scopus-scopusan). Kecerdikan modus ini justru terletak pada sifatnya yang impersonal. Seseorang mempercayai sertifikat tanah bukan karena mengenal petugas yang menerbitkannya, melainkan karena ada stempel resmi, ada prosedur penerbitan, ada sistem tempat keasliannya bisa diperiksa. Kepercayaan tidak lagi dipusatkan pada satu pribadi, melainkan dipecah menjadi kepingan-kepingan kecil dan disebar ke dalam sistem: yang satu memeriksa, yang lain mencatat, yang lain lagi mengesahkan, dan mereka saling mengawasi. Karena itu pula kepercayaan jenis ini dapat dipindahtangankan: dokumen berstempel bisa dibawa ke kota lain dan tetap dipercaya oleh orang yang sama sekali tidak mengenal pembuatnya. Modus inilah yang tumbuh subur bersama budaya tulisan dan mencapai puncaknya dalam birokrasi modern serta ilmu pengetahuan. Lembar ijazah anda, lengkap dengan kop, tanda tangan, stempel dan tetek bengek prosedural lain menjadi saksi bahwa Anda pernah belajar.

Sampai di sini, godaan untuk menyederhanakan sangat besar: masyarakat lisan identik dengan integritas, masyarakat tulisan identik dengan prosedur — dulu kita percaya orang, kini kita percaya sistem. Rumusan itu rapi, mudah diingat, dan keliru. Kenyataan sejarah lebih rumit, dan justru kerumitannya yang mengajarkan sesuatu.

Perhatikan contoh pertama: tradisi sanad dalam ilmu hadis. Dunia periwayatan hadis adalah dunia yang berporos pada tuturan lisan — dari mulut ke mulut, dari guru ke murid, melintasi generasi. Namun justru di jantung dunia lisan itu berkembang salah satu prosedur verifikasi

paling ketat yang pernah diciptakan manusia: setiap tuturan wajib disertai rantai lengkap para penuturnya, dan setiap penutur dalam rantai itu diperiksa riwayat hidupnya, kejujurannya, ketepatan hafalannya, bahkan kemungkinan pertemuannya secara geografis dan kronologis dengan penutur sebelumnya. Lahir seluruh cabang ilmu untuk menilai para perawi. Ini prosedur dalam pengertian penuh — impersonal, sistematis, dapat diuji — dan ia tumbuh di masyarakat tutur.

Perhatikan contoh kedua, dari arah sebaliknya: penelaahan sejawat (peer review) dalam ilmu modern. Inilah prosedur paling berwibawa di dunia tulisan ilmiah. Namun pada apa ia bertumpu? Pada penelaah-penelaah anonim yang dipercaya membaca dengan jujur, menilai tanpa dengki, dan tidak mencuri gagasan naskah yang mereka periksa. Tidak ada prosedur yang bisa menjamin kejujuran para penjamin itu sendiri; yang menjaminnya adalah integritas mereka. Hal yang sama berlaku untuk stempel: stempel bisa dipalsukan, dan yang menjaga agar tidak dipalsukan pada akhirnya adalah manusia-manusia yang berintegritas di dalam sistem. Tidak perlu disampaikan di sini betapa sistem telaah sejawat di lingkungan ilmiah bisa dibobol oknum berpendidikan tinggi yang ingin cepat naik pangkat, dapat pengakuan internasional, atau sekadar jalan-jalan ke luar negeri.

Dua contoh ini menghasilkan dua pelajaran. Pertama, integritas dan prosedur bukan milik zaman tertentu; keduanya hadir di semua masyarakat, hanya dengan takaran dan penekanan yang berbeda. Garis batas sejarah kebudayaan tidak membentang antara lisan dan tulisan, melainkan antara dua cara mengelola kepercayaan yang selalu hidup berdampingan. Kedua — dan ini pelajaran yang lebih dalam — prosedur tidak pernah menggantikan integritas; ia hanya memindahkan dan menyembunyikan lokasinya. Dalam modus integritas, pribadi yang dipercaya berdiri di depan, terlihat, dapat ditatap dan ditagih. Dalam modus prosedur, pribadi-pribadi itu tidak lenyap; mereka hanya mundur ke belakang layar, menjadi penjaga-penjaga sistem yang tak terlihat. Prosedur ibarat lantai yang tampak kokoh dan membuat orang lupa bertanya apa yang menopangnya; padahal di bawahnya tetap berdiri tiang-tiang, dan tiang-tiang itu bernama manusia yang dapat dipercaya.

Lupa yang Diidap Masyarakat Prosedural

Jika pengamatan di atas benar, maka masyarakat modern — masyarakat yang menaruh hampir seluruh kepercayaannya pada prosedur — mengidap sesuatu yang layak disebut lupa. Bukan lupa dalam arti kehilangan data, melainkan lupa dalam arti yang lebih halus dan lebih berbahaya: lupa akan fondasinya sendiri.

Ricoeur, dalam bukunya Memory, History, Forgetting, menunjukkan bahwa lupa (oubli) bukan sekadar lawan dari ingatan; lupa adalah bagian dari cara masyarakat mengelola masa lalunya, dan ada bentuk-bentuk lupa yang justru dilembagakan. Dalam kerangka esai ini, masyarakat prosedural melembagakan satu bentuk lupa yang khas: ia lupa bahwa di dasar setiap sistemnya bersemayam kepercayaan personal yang tidak bisa diprosedurkan. Orang modern memeriksa keaslian dokumen, mengecek nomor registrasi, menuntut bukti tertulis — dan merasa telah melampaui zaman ketika kepercayaan bergantung pada pribadi. Padahal ia hanya tidak lagi melihat pribadi-pribadi itu. Kepercayaannya kepada sistem adalah, pada analisis terakhir, kepercayaan kepada orang-orang tak terlihat yang menjalankan sistem itu dengan jujur.

Lupa semacam ini tidak terasa dalam keadaan normal. Ia baru terasa ketika sistem goyah: ketika ijazah palsu beredar, ketika data penelitian dimanipulasi, ketika lembaga yang paling prosedural sekalipun ternyata bisa dibeli. Pada saat-saat seperti itu, masyarakat prosedural gagap — sebab ia telah kehilangan kepekaan untuk menakar integritas, keterampilan tua yang dahulu diasah setiap hari oleh masyarakat yang hidup dari tuturan. Krisis kepercayaan di zaman mana pun, bila ditelusuri sampai ke akarnya, hampir selalu merupakan krisis pengelolaan jurang kesaksian, bukan krisis medium.

Sastra Lisan sebagai Pengingat

Dari seluruh uraian ini, sastra lisan memperoleh makna yang berbeda dari yang biasa diberikan kepadanya.

Selama ini sastra lisan kerap diperlakukan seperti benda museum: warisan masa lampau yang harus dilestarikan justru karena zamannya telah lewat — didokumentasikan, direkam, ditranskripsi, disimpan rapi sebelum penutur terakhirnya wafat. Niat itu mulia, tetapi ada ironi yang tersembunyi di dalamnya: melestarikan sastra lisan dengan cara mengubahnya menjadi arsip berarti memindahkannya dari modus integritas ke modus prosedur — menyelamatkan tuturannya sambil kehilangan justru hal yang membuatnya berharga. Ini seperti mengganti cigak (monyet) dengan baruak (kera). Sama saja.

Sebab yang paling berharga dari sastra lisan, dalam terang esai ini, bukan isi ceritanya semata, melainkan cara ia mengikat kebenaran pada pribadi manusia. Dalam tradisi tutur, sebuah cerita tidak bisa dipisahkan dari penuturnya; kebenarannya ditanggung oleh hidup seseorang, di hadapan komunitas yang mengenalnya dan dapat menagihnya kapan saja. Sastra lisan adalah lembaga tempat masyarakat berlatih, dari generasi ke generasi, melakukan hal yang paling sulit dalam hidup bersama: memberi kredit kepercayaan dengan mata terbuka, dan menakar siapa yang layak menerimanya. Ia bukan teknologi penyimpanan yang primitif; ia adalah sekolah attestation yang paling tua.

Karena itu, merawat sastra lisan bukanlah nostalgia. Ia adalah cara sebuah masyarakat mengingat fondasi kepercayaannya sendiri — mengingat bahwa sebelum stempel, sebelum arsip, sebelum prosedur, kepercayaan selalu bermula dari seorang manusia yang berkata: aku ada di sana, percayalah padaku.

Penutup: Suara Tanpa Saksi

Dan justru di zaman ini, ingatan itu menjadi lebih mendesak daripada sebelumnya.

Hari ini manusia mulai terbiasa menerima jawaban, cerita, bahkan “pengetahuan” dari sistem-sistem kecerdasan buatan — suara-suara yang fasih, meyakinkan, dan tersedia setiap saat.

Mudah mengira ini sekadar babak baru dari kisah lama tentang pergantian medium. Tetapi kerangka yang telah dibangun esai ini memperlihatkan sesuatu yang lebih mengganggu.

Keluaran mesin semacam itu berbentuk seperti kesaksian, namun tidak memiliki struktur kesaksian: tidak ada “aku” yang pernah ada di sana; tidak ada hidup yang bisa koheren atau tidak koheren dengan kata-katanya; tidak ada pribadi yang menanggung malu bila keliru, tidak ada kepercayaan yang bisa bangkrut. Ia bukan modus integritas, sebab tidak ada pribadi yang bertaruh. Ia juga bukan sekadar modus prosedur, sebab rantai pertanggungjawabannya tidak dapat ditelusuri sampai tuntas bahkan oleh para pembuatnya sendiri (engineer IT bisa bingung sendiri dengan jawaban AI yang dia buat). Untuk pertama kalinya dalam sejarah, manusia memberi kredit kepercayaan kepada suara yang tidak dapat berutang.

Apa nama bentuk kepercayaan semacam itu? Apakah ia masih bisa disebut attestation, ataukah sesuatu yang belum memiliki nama? Esai ini tidak hendak menjawabnya — pertanyaan itu menuntut perenungan yang lebih panjang dan lebih hati-hati daripada ruang yang tersedia di sini. Tetapi satu hal dapat dikatakan: menghadapi pertanyaan sebesar itu, masyarakat yang masih menyimpan ingatan tentang modus integritas — masyarakat yang masih tahu rasanya menatap wajah seorang penutur dan menakar hidupnya — memiliki bekal yang tidak dimiliki masyarakat yang telah sepenuhnya lupa. Di situlah, barangkali, letak makna sastra lisan yang paling penting untuk masa depan: bukan sebagai kenangan tentang cara kita dahulu bercerita, melainkan sebagai pengingat tentang apa yang dipertaruhkan setiap kali manusia berkata kepada manusia lain — percayalah padaku.

Baca juga:

“Aku Ada di Sana, Percayalah Padaku” – Sastra Lisan dan Soal Percaya pada Kesaksian

“Aku Ada di Sana, Percayalah Padaku” – Sastra Lisan dan Soal Percaya pada Kesaksian

وَاِّذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِّ نْ بَنِّْٰيٓ ’ادَمَ مِّنْ ظُهُوْرِّهِّمْ ذُ ِّ’ريَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَ ’ٰلٓى اَنْفُسِّهِّ “مْ…

Jangan Takut, Essensialisme Masih Jauh, dan Kita Tidak Berniat Ke Sana

Jangan Takut, Essensialisme Masih Jauh, dan Kita Tidak Berniat Ke Sana

a Dalam diskusi-diskusi terakhir di Komunitas Titian (Kotin), terutama yang secara khusus mengetengahkan pembicaraan perihal subjek…

Yang Tetap, Yang Berubah

Yang Tetap, Yang Berubah

“Apakah mungkin kita hidup dengan cara yang sama, ketika begitu banyak hal di sekitar kita terus…