kategori: esai
diunggah Desember 27, 2025

Apakah mungkin kita hidup dengan cara yang sama, ketika begitu banyak hal di sekitar kita terus berubah?

filsafatdan falsafah. Dalam tradisi akademik Barat, filsafat sering dipahami sebagai aktivitas berpikir sistematis, rasional, dan konseptual untuk mencari kebenaran. Ia bekerja melalui konsep, argumentasi, dan abstraksi. Sementara itu, istilah falsafah, khususnya dalam konteks budaya seperti Minangkabau, tidak selalu berdiri di ruang abstraksi semata. Falsafah lebih dekat dengan cara hidup. Ia hidup dalam ungkapan, pepatah, adat, dan praktik keseharian masyarakat. Jika filsafat bertanya “apa itu kebenaran?”, maka falsafah bertanya “bagaimana kebenaran dihidupkan?”.Pembedaan ini penting karena ketika kita berbicara tentang Minangkabau. Kita tidak hanya sedang membicarakan filsafat sebagai sistem pemikiran. Tetapi membicarakan falsafah, sebagai pengetahuan yang hidup. Falsafah Minangkabau tidak lahir di ruang kuliah atau buku teoritis, melainkan tumbuh dari pengalaman kolektif masyarakatnya. Dan ketiga buku yang dibahas dalam Re-Reading Minangkabau ini, menurut saya, memperlihatkan dengan sangat jelas bagaimana falsafah itu dirumuskan, dialami, dan diketahui.

Membaca ulang falsafah Minangkabau melalui tiga buku yang dibahas dalam rangka Re-Reading Minangkabau ini membuat saya sampai pada satu kesadaran awal. Minangkabau tidak pernah hadir sebagai sesuatu yang selesai. Ia terus dinegosiasikan oleh manusia-manusia yang menjalaninya. Kita berani melihat bagaimana nilai, pengetahuan, dan pengalaman hidup kerap tidak sejalan, meski kita sering berpura-pura sebaliknya.

Buku Dasar Falsafah Adat Minangkabau karya M. Nasroen memberi kita fondasi penting untuk memahami bagaimana adat dirumuskan sebagai sistem nilai. Nasroen menempatkan adat bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, melainkan sebagai falsafah hidup yang mengatur cara manusia Minangkabau berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan. Dalam pandangan ini, adat berfungsi sebagai penuntun moral dan sosial, sesuatu yang memberi arah agar kehidupan berjalan tertib dan seimbang. Membaca Nasroen, kita seperti diajak melihat Minangkabau dari sudut pandang normatif. Bagaimana seharusnya orang Minangkabau hidup menurut adat.

Namun, ketika kita beralih ke buku Gregory M. Simon, Caged In on the Outside: Moral Subjectivity, Selfhood, and Islam in Minangkabau, perspektifnya terasa berbeda. Simon tidak banyak berbicara tentang adat sebagai ideal, melainkan tentang bagaimana individu Minangkabau mengalami nilai-nilai itu dalam kehidupan nyata. Ia memperlihatkan bahwa menjadi orang Minangkabau berarti berada dalam ketegangan terus-menerus antara adat, Islam, dan tuntutan sosial modern. Subjek Minangkabau tidak selalu hidup dalam harmoni nilai, tetapi justru sering berada dalam dilema moral. Memilih, menimbang, bahkan kadang merasa terkungkung oleh ekspektasi yang datang.

Di titik ini, saya merasa pembacaan Gregory M. Simon penting karena ia “membumikan” falsafah adat. Adat tidak lagi tampil sebagai sistem yang rapi dan utuh, tetapi sebagai sesuatu yang hidup dalam pengalaman manusia yang kompleks. Kita jadi memahami bahwa falsafah Minangkabau bukan hanya soal apa yang benar menurut adat, tetapi juga bagaimana manusia berjuang untuk tetap berada di dalam kerangka nilai tersebut. Ada rasa tidak nyaman, ada konflik batin, dan ada proses negosiasi yang sering kali tidak terlihat jika kita hanya berbicara di level konsep.

Sementara itu, buku Febri Yulika tentang epistemologi Minangkabau membawa diskusi ini ke lapisan yang lebih dalam. Bagaimana orang Minangkabau mengetahui dan memahami dunia? Di sini, adat tidak hanya dipahami sebagai norma atau aturan, tetapi sebagai sumber pengetahuan. Pengetahuan dalam tradisi Minangkabau tidak lahir dari abstraksi semata, melainkan dari pengalaman hidup, musyawarah, petatah-petitih, dan praktik sosial sehari-hari. Cara mengetahui ini bersifat kolektif dan relasional.

Melalui pembacaan Febri Yulika, kita diajak menyadari bahwa falsafah Minangkabau memiliki logika pengetahuannya sendiri. Pengetahuan tidak dipisahkan dari etika dan kehidupan sosial. Apa yang dianggap benar bukan hanya soal rasionalitas, tetapi juga soal kepatutan, keseimbangan, dan kebijaksanaan. Ini menjadi penting ketika kita membandingkannya dengan cara berpikir modern yang sering memisahkan pengetahuan dan nilai.

Jika ketiga buku ini dibaca secara berdampingan, maka terlihat sebuah dialog yang menarik. Nasroen memberi kita fondasi falsafah adat, Simon memperlihatkan bagaimana fondasi itu diuji dalam pengalaman hidup individu, dan Febri Yulika menjelaskan bagaimana adat bekerja sebagai cara mengetahui. Kita bisa melihat bahwa falsafah Minangkabau tidak bisa dipahami hanya dari satu sudut pandang. Ia harus dibaca sebagai sistem nilai, sebagai pengalaman subjektif, dan sebagai epistemologi sekaligus.

Refleksi ini membawa saya pada pertanyaan yang lebih luas, apa arti membaca falsafah Minangkabau hari ini? Di tengah cara hidup yang kian berkiblat ke barat. Sebaliknya, falsafah Minangkabau menawarkan cara hidup yang menekankan relasi, kehati-hatian, dan kebersamaan. Namun, ketiga buku ini juga mengingatkan kita bahwa nilai-nilai tersebut tidak selalu mudah dijalani. Ada ketegangan, ada krisis, dan ada perubahan yang menuntut untuk ditafsirkan ulang. Karena itu, membaca ulang falsafah Minangkabau bukan berarti mengidealkan masa lalu, melainkan membuka ruang refleksi kritis. Adat bukan sesuatu yang harus dibekukan, melainkan sesuatu yang perlu terus dipikirkan ulang agar tetap relevan dengan pengalaman hidup manusia hari ini. Akhirnya, refleksi atas ketiga buku ini mengajak kita untuk melihat Minangkabau bukan hanya sebagai identitas budaya, tetapi sebagai proses menjadi manusia. Sebuah proses yang selalu berada di antara nilai dan realitas, antara pengetahuan dan pengalaman, serta antara tradisi dan perubahan.

Tulisan ini disusun sebagai refleksi atas program Re-reading Seri Falsafah

Baca juga:

Jangan Takut, Essensialisme Masih Jauh, dan Kita Tidak Berniat Ke Sana

Jangan Takut, Essensialisme Masih Jauh, dan Kita Tidak Berniat Ke Sana

a Dalam diskusi-diskusi terakhir di Komunitas Titian (Kotin), terutama yang secara khusus mengetengahkan pembicaraan perihal subjek…

Yang Tetap, Yang Berubah

Yang Tetap, Yang Berubah

“Apakah mungkin kita hidup dengan cara yang sama, ketika begitu banyak hal di sekitar kita terus…

Simalakama Sejarah Pasif: Melongo dan Menyigi Pasca Aia Gadang dan Tapian Barubah

Simalakama Sejarah Pasif: Melongo dan Menyigi Pasca Aia Gadang dan Tapian Barubah

Dengan klaim yang mutlak, saya mendefinisikan diri sebagai si paling ber-adat, ber-lembaga, dan ber-pusaka. Bagaimana tidak?…