Dengan klaim yang mutlak, saya mendefinisikan diri sebagai si paling ber-adat, ber-lembaga, dan ber-pusaka. Bagaimana tidak? Cerita Minangkabau yang eksis semenjak Gunung Marapi sebesar telur itik itu, membusungkan dada saya dan berucap ‘sayalah Minangkabau itu, yang hidup tanpa gamang dengan matrilinealnya.’ Betapa paripurnanya diri ini. Semenjak dari rahim, saya telah dinisbahkan berdasarkan garis ibu, tiada kurang pribadi ini untuk ‘melek gender’ dan berorientasi memperjuangkan perempuan. Saya pun lebih islami dari pada bangsa arab itu sendiri. Adagium ‘adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah’ mengkokohkan tubuh ini sebagai khalifah yang rahmatan lil alamin. Inilah sosok absolut yang masih diterka dan utopia di peradaban mana pun. Sudah sepantasnya, saya menggenggam kunci kebenaran antara yang hak dan yang batil. Bagi saya, menjadi orang Minangkabau sama mulianya dengan orang Quraish, yang karenanya asal sang nabi, sang la nabiya ba’dah.

Amma ba’du, khalifah ini tenggelam di dulang delusi. Eksistensi saya dikoyak oleh realitas yang tak berpihak, bermula dari pertanyaan kepada ibu belum lama ini. “Dari mana suku kita (Tanjuang: sub-etnis Minangkabau) ini sebenarnya berasal? Apakah sedari nenek moyang kita sudah menetap di Lubuk Basung, Agam, ini?” Jawaban ibu bak mengoyak baju di dada. “Tidak. Kita berasal dari Gaduik, Tilatang Kamang, pinggiran Kota Bukittinggi. Nenekmu, ketika masih kanak-kanak di tahun 1948, dibawa mengungsi ke Lubuk Basung saat Agresi Militer Belanda II.” Betapa ironinya diri ini bernisbah, merintih di gelanggang dunia. Di waktu kecilnya nenek, ia kakak-beradik, memompa hidup, meneroka ke belantara hutan dengan menyeberangi Batang Antokan. Hingga akhir hayat pun dikuburkan di tepian sungai itu. Batang terendam mana yang ia dambakan? Dan habitus merantau yang bagaimana ketika di ambang dentuman dan ketakutan?

Dengan demikian, saya adalah keturunan penyintas agresi dari tepian kota yang dipaksa menjadi perintis, bukan pewaris, untuk bermukim di tepian sungai. Satu kalimat ini adalah saya dalam narasi besar sejarah imperialisme dan kolonialisme di dunia.

Banyak dari kita adalah pencari sejarah, setidaknya untuk mengetahui asal-usul keluarga di kampung. Kita mengambil cerita yang bermula dengan kata ‘konon’, dari mulut ke mulut, dari nan tua-tua. Dalam cerita saya, terdapat penggalan-penggalan narasi imperialisme yang berbuah rasa juang untuk penyintas seperti nenek saya barusan.

Banyak dari kita adalah pembaca sejarah, setidaknya untuk memahami bagaimana asal-usul kita ditulis, dibakukan, dan terkristalisasi menjadi pengetahuan. Gamang saya dibuatnya ketika membaca sejarah Minangkabau ini.

Begitulah permenungan pertama saya, setelah menyimak buku-buku yang tersedia dalam setiap serial re-reading dan legaran Komunitas Titian. Sepongah-pongahnya saya, ciut juga nyali ini berhadapan dengan sejarah Minangkabau yang sudah menjadi ‘pengetahuan resmi.’ Entahlah dengan niniak-mamak atau tetua di kampung? Mudah-mudahan mereka tidak ciut, karena mereka adalah sosok yang ‘tak lapuk di hujan, tak lekang di panas’. Kata ‘konon’ dan mentalitas mereka ketika bercerita adalah instrumen determinan bagi para pencari sejarah lisan.

Lantas, bagaimana nasib kita? Si pencari dan si pembaca sejarah ini? Bisakah keduanya sama-sama menikmati sejarah sebagai pengetahuan yang utuh? Bak bertemu ruas dengan buku? Hendak dua hal bermenung seiring, untuk menjawab ini, saya tidak lagi gamang, tapi memberangsang (baca: gusar sekali). Menikmati sejarah hendaklah dimulai dengan kecurigaan. Kita perlu membangun pertanyaan seluas-luasnya, seleluasa mungkin.Kecurigaan dan keleluasaan ini beralasan ketika saya membaca materi serial sejarah re-reading. Saya menyadari bahwa membaca sejarah Minangkabau bukan sekadar aktivitas menyerap informasi, melainkan medan pertempuran yang melawan apa yang disebut imperialisme intelektual. Pertama, ‘Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri’ yang ditulis oleh Christine Dobbin. Betapapun kayanya data yang ia sajikan, Dobbin nyaris menjebak kita dalam ‘reduksionisme ekonomi:’ ia melukiskan gejolak spiritual leluhur seolah-olah hanya respons pasif terhadap harga kopi dan lada di pasar dunia. Ini adalah pandangan yang seksi secara intelektual sekaligus berbahaya. Sejarah kita direduksi menjadi grafik komoditas, dan kita digiring untuk melupakan norma-norma ideologis yang ada pada setiap subjek Minangkabau saat itu.

Agak laen dengan karya Jettrey Hadler, ‘Sengketa Tiada Putus’ itu. Ia menggagas narasi kesadaran aktif dalam kebudayaan di tengah pusaran kolonialisme  dan  purifikasi  agama. Hadler mengetengahkan subjek Minangkabau yang bernegosiasi sebagai agensi dari tragedi-tragedi pada sejarah yang tercatat. Ini adalah buku kedua.

Menjadi subjek post-colonial hari ini, kita jeli memilah, mana narasi sejarah yang meninabobokan kita sebagai korban pasar, dan mana yang membangunkan kita sebagai aktor sejarah yang berdaya. Setidaknya hal ini bisa disepakati sebagai suasana kebatinan kita saat ini.

Kewaspadaan ini menuntut lebih jauh. Di balik puja-puji atas ketahanan budaya yang disebut Hadler, terselip bahaya sunyi jika kita tidak mewawas diri. Terlena akan merayakan ‘kemenangan simbolik’ adat di atas kertas, sementara basis materialnya (tanah ulayat dan ekologi), terkoyak oleh logika pasar yang diwariskan kolonialisme. Kita ternganga dalam keadaan mentalitas yang tertawan, yang membuat kita gagal mengindentifikasi masalah fundamental kebudayaan yang timbal balik. Kita fasih bicara soal negosiasi identitas, tapi gagap saat alam digerus menjadi komoditas belaka.

Alam tidak lagi terkembang, melainkan terlipat; gurunya kini adalah budaya monokultur. Jika rekam jejak sejarah demikian yang dituduhkan sebagai ‘kesadaran aktif’ kita, sebagaimana yang diungkapkan Dobbin. Maka dekolonialisasi dalam membaca sejarah menjadi urgen. Kita telah disematkan di panggung narasi sejarah dunia sebagai aktor yang mengubah alam menjadi lahan ekstraktif demi syahwat ekonomi, yang berakibat pada konflik sosial tak berkesudahan. Ini menantang kita untuk merebut kembali kedaulatan nalar. Bagaimana kita memutus rantai sejarah eksploitasi alam tersebut? Apakah kebanggaan kita pada kebudayaan hanyalah pelarian dari ketidakmampuan menjaga alam yang ada? Oleh karena itu, re-reading sejarah adalah masa depan, mengembalikan alam sebagai rahim kehidupan, bukan lagi tumbal kemajuan.

Akhirul kalam, menarasikan utuh sejarah, memantik permenungan untuk mengajukan pertanyaan pada setiap sematan kepalsuan pada subjek post-colonial. Bermula dari nenek yang menyeberangi Batang Antokan dan meneroka demi menghidupi hidup sepenuhnya. Kehadiran saya hari ini adalah deru dari kegamangan, sebagai subjek yang menganga dan koyak pada mistifikasi agung. Dengan pepatah usang dibarui, lapuk dikajangi, saya memberangsang atas definisi diri yang lahir dari pasivitas sejarah. Estafet yang memintal dari nenek, ibu, hingga saya saat ini adalah kelindan evolusi nalar yang menantang determinasi imperialisme. Dengan menyigi di sisa reruntuhan kolonialitas yang masih anyir ini. Lantaran, setegap apa busungan dada yang kita paksakan untuk mendaku kedaulatan, jika ia hanyalah penimpa luka sejarah yang membusuk di sumsum ingatan?

Tulisan ini disusun sebagai refleksi atas program Re-reading Seri Sejarah

Baca juga:

Jangan Takut, Essensialisme Masih Jauh, dan Kita Tidak Berniat Ke Sana

Jangan Takut, Essensialisme Masih Jauh, dan Kita Tidak Berniat Ke Sana

a Dalam diskusi-diskusi terakhir di Komunitas Titian (Kotin), terutama yang secara khusus mengetengahkan pembicaraan perihal subjek…

Yang Tetap, Yang Berubah

Yang Tetap, Yang Berubah

“Apakah mungkin kita hidup dengan cara yang sama, ketika begitu banyak hal di sekitar kita terus…

Simalakama Sejarah Pasif: Melongo dan Menyigi Pasca Aia Gadang dan Tapian Barubah

Simalakama Sejarah Pasif: Melongo dan Menyigi Pasca Aia Gadang dan Tapian Barubah

Dengan klaim yang mutlak, saya mendefinisikan diri sebagai si paling ber-adat, ber-lembaga, dan ber-pusaka. Bagaimana tidak?…