Izinkan saya menunaikan tugas untuk menyampaikan satu renungan atas beberapa diskusi sesi Bahasa yang telah diselenggarakan Komunitas Titian beberapa bulan yang lalu.

Suatu kali, dimasa awal meninggalkan kampung halaman, tepatnya merantau ke Jakarta, saya mengalami pengalaman yang cukup unik—lebih tepatnya tidak mengenakkan—terkait bahasa yang saya gunakan. Bila diingat lagi hari ini, pengalaman tersebut bukanlah masalah besar, namun saya merasa penting untuk dipermasalahkan.

Jadi begini….

Seperti kebanyakan orang Minang yang baru merantau, satu diantara yang sering jadi sorotan dan direspon dengan cepat, baik oleh orang non-minang dan terutama oleh orang Minang sendiri adalah dialek mereka yang begitu kentara ketika berbahasa Indonesia. Terutama pelafalan suatu kata yang di dalamnya terdapat huruf    vokal E.

Penyebutan “Tebet” satu di antara sekian banyak contoh yang seringkali direspon. Responnya, tertawa dan menyebutkan bagaimana cara yang benar.Awalnya, saya tidak terlalu paham kenapa mereka tertawa, namun tawa serta ekspresi wajah mereka baik pada pengalaman kali pertama, ke dua, tiga dan seterusnya membuat saya terasa berbeda dari mereka.

Pengalaman yang berulang ini tak terlalu saya pahami dan besar sekali keinginan untuk menuntaskannya—baik dengan cara yang elegan ataupun dengan cara preman. Tapi sadar tidak di kampung halaman, solusi yang saya pilih ketika itu—keputusan cukup saya sesali hari ini—adalah mengedit lidah saya dengan meniru dialek orang Jakarta.

Proses pengeditan ini tentu tidak berjalan sukses, karena bahasa ibu begitu kuat membelenggu lidah saya ini. Namun, lama-kelamaan, editan mulai rapi. Dan saya merasa cukup sukses melepaskan rasa dan frasa bahasa ibu saya.

Menariknya, hal yang tak disadari, selain lidah, hal yang paling berhasil saya edit dan tata sedemikian rupa   ketika berhadapan dengan orang lain (non-Minang) adalah mental. Apa hasilnya? Saya sendiri ikut mentertawakan  perantau Minang yang bahasa ibunya begitu kentara. Dan lagi-lagi, “Tebet” menjadi kata favorit menjadi bahan tertawaan, apalagi E nya begitu nyaring.

Contoh lain bagaimana saya mentertawakan kebudayaan ini, tepatnya buku ke dua yang dibahas komunitas Titian, “Minangkabau And Negri Sembilan Socio-Political Structure In Indonesia” karya P. E. De Josselin De Jong. Karya yang membahas tentang struktur sosial-politik masyarakat Minang mulai dari struktur terkecil hingga paling besar serta ia juga menggambarkan berbagai peran dan fungsi dari tiap- tiap individu di dalamnya.

Namun, yang ingin saya highlight di sini ialah legenda asal usul orang Minang dari harimau, anjing, kucing dan nama-nama binatang lainya yang terdapat dalam bab tiga. Menariknya, respon kebanyakan anggota diskusi ketika itu serentak ter/mentertawakan ketika pemantik menyebutkan legenda ini.

Tiap kali nama hewan disebutkan, derai tawa juga ikut mengiringinya. Tentu saya ikut dalam suasana tawa itu, namun entah apa niat pemantik yang ketika itu uda Inyiak Ridwan Muzir, ia membiarkan tawa riang yang tidak jelas tersebut tuntas sampai selesai. Dan mungkin, saya salah satu orang yang tidak menuntaskanya, karena seketika saya sadar dan menangkap basah diri saya sendiri mentertawakan salah satu sumber kebudayaan ini yaitu sastra lisannya.

Saya kira dua contoh tersebut cukup saya jadikan sebagai pengantar dengan maksud membandingkan gejala yang saya rasa dan tangkap selama diskusi sesi bahasa Komunitas Titian.

Tiga buku dan satu artikel telah didiskusikan dalam sesi bahasa ini. Buku pertama yaitu A Kingdom of Word karya Jane Drakard yang dipantik oleh Heru Joni Putra, kemudian buku ke dua Manner and Meaning karya Fredrick K. Errington, saya sendiri memantik ketika itu dan terakhir buku Landscape of Emotion karya Karl G. Heider dan artikel Van Erde yang dipantik oleh Inyiak Ridwan Muzir.

Berbeda dengan 2 kasus di atas, selama proses membaca, mempelajari dan mendiskusi beberapa karya ini, sebagai orang Minang, saya merasa senang bahkan bangga dengan hasil temuan para peneliti ini.

Misalnya, Drakard yang menyebutkan pengamat dan sejarawan Eropa seringkali gagal memahami bentuk kekuasaan Minangkabau. Mereka menilai bahwa Minangkabau merupakan bekas kerajaan besar yang telah runtuh dan kini hanya menyisakan fragmen-fragmen.

Kegagalan mereka, menurut Drakard karena orang eropa seringkali terjebak dalam bias evolusioner dan Drakard menununjukkan bahwa apa yang dianggap “keruntuhan” bersumber dari ketidaktahuan mereka bagaimana bentuk kekuasaan, kedaulatan orang Minang yang tidak bergantung pada Militer, administrasi pajak, birokrasi terpusat. Sedangkan bagi orang eropa ketika itu, kekuasaan dipahami memiliki wilayah yang jelas, memiliki militer, administrasi pajak dan birokrasi yang terpusat.

Kekuasan di Minangkabau tidak berkaitan dengan apa yang dimiliki seperti wilayah dan kekayaan serta juga tidak dijalankan dengan instruksi tapi dengan legitimasi budaya, adat, spiritual dimana semua ini disusun dengan bahasa yang megah, sakral dan penuh wibawa.

Jadi, pengamat Eropa gagal melihat kekuasaan minangkabau karena mereka mencari bentuk (tentara/ birokrasi) sedangkan kekuasaan tersebut terletak pada bunyi dan makna (bahasa/teks).

Singkat cerita, sebagai orang Minang, beberapa temuan Drakard ini memupuk rasa senang dan bangga pada saya. Bahkan pemantik, ketika itu Heru Joni Putra, orang Minang yang cukup terkenal komentarnya yang sarkas dan kritis atas Minangkabau menyebutkan secara eksplisit “kita (orang Minang) boleh bangga memiliki dan menyumbangkan satu bentuk kekuasaan”.

Rasa senang dan bangga atas berbagai temuan ini juga sering muncul dalam pembahasan dua buku lainya. Bagi yang ingin melihat pembahasan lengkap diskusi sesi bahasa ini, silahkan lihat di YouTube Komunitas Titian atau tunggu pembuatan bukunya.

Dari berbagai cerita di atas, hal yang ingin saya sampaikan di sini adalah, ketika saya tidak terlalu paham tentang kebudayaan ini, saya cendrung mentertawakanya, dan ketika mulai mempelajarinya, saya mulai menangkap basah disi saya selama ini mentertawakan kebudayaan ini. dan menariknya setelah agak cukup banyak mempelajarinya, justru muncul kerinduan untuk ingin kembali pada masa lalu yang duduga pernah ada sebagaimana temuan-temuan para peneliti yang telah dibahas di Komunitas Titian. Namun keinginan ini tidak berjalan lancar karena adanya jebakan esensialisme yang seringkali menghantui. Atas hal semua ini, apa akal kita lagi?

Tulisan ini disusun sebagai refleksi atas program Re-reading Seri Bahasa

Baca juga:

Jangan Takut, Essensialisme Masih Jauh, dan Kita Tidak Berniat Ke Sana

Jangan Takut, Essensialisme Masih Jauh, dan Kita Tidak Berniat Ke Sana

a Dalam diskusi-diskusi terakhir di Komunitas Titian (Kotin), terutama yang secara khusus mengetengahkan pembicaraan perihal subjek…

Yang Tetap, Yang Berubah

Yang Tetap, Yang Berubah

“Apakah mungkin kita hidup dengan cara yang sama, ketika begitu banyak hal di sekitar kita terus…

Simalakama Sejarah Pasif: Melongo dan Menyigi Pasca Aia Gadang dan Tapian Barubah

Simalakama Sejarah Pasif: Melongo dan Menyigi Pasca Aia Gadang dan Tapian Barubah

Dengan klaim yang mutlak, saya mendefinisikan diri sebagai si paling ber-adat, ber-lembaga, dan ber-pusaka. Bagaimana tidak?…