Benarkah jalan menuju Tuhan harus ditempuh dengan memunggungi dunia? Ataukah justru di dalam kesunyian surau, tersimpan strategi pergerakan sosial yang paling radikal?

Pertanyaan ini menjadi landasan untuk menelusuri kembali tesis Welhendri Azwar dalam karyanya, “Gerakan Sosial Kaum Tarekat”.

Buku ini hadir membongkar stigma lama yang kerap memojokkan kaum Tarekat sebagai kelompok fatalis, mereka yang dianggap lari dari realitas demi ‘mabuk’ pada ilahi. Azwar menolak anggapan pasif itu. Ia justru mengajukan pembacaan baru, yaitu di Minangkabau, Tarekat adalah sebuah Gerakan Sosial yang canggih dan terstruktur.

Melalui pendekatan kultural, para Syeikh dan Tuangku tidak menghunus pedang atau berteriak di mimbar untuk mengubah tatanan. Mereka melakukan infiltrasi senyap; masuk ke dalam urat nadi adat, menjadikan surau sebagai basis pendidikan karakter, dan menjahit negosiasi alot antara agama dan tradisi lokal. Hasilnya adalah sebuah kohesi sosial yang kokoh, di mana Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah bukan sekadar slogan, lebih dari itu, adagium itu menjadi buah dari dialektika panjang kaum sufi.

Di sinilah letak paradoks yang menarik: bagaimana gerakan yang tampak “diam” dan “menyendiri” justru mampu menjadi arsitek utama identitas masyarakat Minangkabau. Lantas, di tengah kebisingan dunia modern hari ini, masihkah relevan strategi “gerakan sunyi” semacam ini untuk menciptakan perubahan?

Mari kita diskusikan bersama dalam serial Spiritualitas dan Gerakan Sosial di Komunitas Titian pada:

Hari/Tanggal: Sabtu, 14 Februari 2026
Waktu: 19:30 – selesai
Tempat: Sarang Building Blok 2, Kalipakis, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, DIY

agenda sebelumnya