Apa yang hilang ketika sebuah institusi sosial yg kompleks seperti pasar pedesaan direduksi menjadi sekadar variabel dalam model ekonomi formal? Nusyirwan Efendi dalam disertasinya “Minangkabau Rural Markets: Their System, Roles and Functions in the Market Community of West Sumatra” mencoba menantang reduksionisme tersebut.

Berangkat dari sebuah kegelisahan terhadap cara kita memandang pasar. Penelitian yg dilakukan di Nagari Batipuh dan Pariangan selama 15 bulan (1995-1997) ini tidak hanya bertanya “apa” karakteristik dan fungsi pasar di Minangkabau, tetapi juga “mengapa”, di tengah gempuran modernitas, institusi ini mampu bertahan. Secara implisit pertanyaan ini juga mengkritisi paradigma yg melihat institusi “tradisional” sebagai entitas statis yg pasif menunggu untuk digantikan. Disertasi ini mengajak kita untuk mempertimbangkan kembali: jangan-jangan vitalitas pasar pedesaan justru terletak pada dimensi-dimensi yg selama ini kita abaikan, karena terperangkap dalam kacamata ekonomi yg sempit.

Lalu, bagaimana jika kita coba membalik asumsi dasar—bahwa pasar bukanlah sebuah arena ekonomi yg di dalamnya terdapat interaksi sosial, melainkan sebuah institusi sosial total yg salah satu manifestasinya ialah aktivitas ekonomi? Inilah tesis sentral yg diajukan. Dengan meminjam kerangka konseptual “ekonomi yang tertanam” (embeddedness) dari Karl Polanyi, penelitian ini berargumen bahwa keberlangsungan pasar Minangkabau tidak bisa dijelaskan melalui efisiensi transaksional semata. Tak hanya itu, bahkan pasar ini bertahan justru karena ia berfungsi sebagai simpul vital di mana norma sosial, relasi kekerabatan, & bahkan kontestasi politik dinegosiasikan dan direproduksi.
Jika kita menerima premis bahwa pasar adalah sebuah panggung makna yg dinamis, maka tantangan epistemologis apa yg muncul dalam upaya kita untuk memahaminya?

Untuk lebih jelasnya, mari kita bincangkan dalam diskusi Komunitas Titian pada serial EkoSosPol pada:
Hari/Tanggal: Sabtu 11 Oktober 2025
Waktu: 19:30-selesai
Tempat: SaRang Building Blok 2, Kalipakis, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, DIY

Pemantik: Rafsanjani
Moderator: Khairul Umami

agenda sebelumnya