Cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis menjadi titik berangkat yg tepat utk membicarakan ketegangan lama dlm kehidupan beragama: antara kesalehan individual & tanggung jawab sosial. Navis menyindir keras praktik beragama yang hanya mementingkan ritual pribadi, abai terhadap keluarga, kemiskinan, & kehidupan duniawi. Sindiran itu tajam karena ia menghunjam pada sesuatu yang selama ini dianggap mulia ketaatan kepada Tuhan.
Meskipun tidak eksplisit, cerpen ini seperti memproyeksikan “pemahaman umum” (atau setidaknya spekulatif) pada satu—dari sekian banyak yang lain—elemen masyarakat, yaitu kaum Tarikat—bahwa mereka hanya bergerak dalam kerangka hablumminallah sahaja, hubungan vertikal dengan Tuhan, seraya mengabaikan dimensi horizontal kehidupan sosial.
Namun sejumlah sinyal mengatakan sebaliknya. Dua buku yang telah dibahas dalam re-reading Komunitas Titian—Gerakan Sosial Kaum Tarikat karya Welhendri Azwar dan Islamic Peasant and State karya Ken Young—menyorot fenomena Tarikat di Minangkabau & menawarkan argument yang berbeda dari yang sebelumnya. Keduanya seolah ingin menunjukkan dimensi lain keterlibatan kaum Tarekat yang tidak selalu terbatas pada ritual keagamaan semata.
Meskipun demikian, kedua buku ini tdk serta-merta membalikkan prasangka awal secara bulat. Sajian Welhendri Azwar menimbulkan pertanyaan & keraguan apakah Tarekat betul-betul telah keluar dari Gerakan Spiritual & menjangkau Gerakan Sosial. Keterlibatan pengikut Tarikat dalam Perang Kamang misalnya—sebagaimana dicatat Ken Young—juga masih menyisakan pertanyaan: apakah itu merupakan gerakan sosial yang terorganisasi & ideologis, ataukah hanya respons situasional atas tekanan kolonial? Pertanyaan serupa berlaku pula untuk era Paderi, di mana sejumlah pemimpin utamanya disinyalir juga berasal dari kalangan bertarikat, meski hal ini masih diperdebatkan.
Diskusi Legaran kali ini tidak bermaksud memutihkan maupun menghitamkan posisi kaum tarikat. Kehadirannya diharapkan menjadi ruang memahami secara lebih bernuansa sejauh mana gerakan Tarikat benar-benar menjangkau ranah sosial—di Minangkabau & di berbagai daerah lain di Indonesia—serta bagaimana potensi itu bisa dilihat dalam konteks hari ini dan masa depan.
Diskusi Legaran #6 – Seri Spiritualitas dan Gerakan Sosial
“Gerakan Sosial Kaum Tarikat: Antara Kesalehan, Sejarah, dan Tanggung Jawab Sosial”
pembicara:
Kedung Darma Romansha
Nur Khalik Ridwan
moderator :
Khairul Umami
Waktu: Sabtu, 11 April 2026 pukul 19.00-selesai
Tempat: Sarang Building, Kalipakis, RT 05/II, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, DIY