Bagaimana jika sebuah pemberontakan tidak selalu wujud dari pengkhianatan, melainkan jeritan terakhir dari sebuah imajinasi alternatif tentang Indonesia yg ditolak keberadaannya? Pertanyaan ini secara diam-diam selalu membayangi tiap lembar dalam buku Audrey Kahin.

Karya ini menolak untuk menyederhanakan sejarah sebagai narasi hitam-putih antara pahlawan persatuan dan pemberontak separatis. Sebaliknya ia mengajak kita pada sebuah pertarungan antara dua cetak biru bangsa. Satu sisi, visi Minangkabau tentang sebuah republik yg egaliter, terdesentralisasi, dan hidup dari musyawarah. Di sisi lain, visi Jawa-sentris tentang negara kesatuan yg kokoh, terpusat, dan menuntut kepatuhan demi stabilitas. Buku ini mencoba menjelaskan bagaimana salah satu dari dua “proyek Indonesia” tersebut harus dikubur agar yg lain bisa hidup.

Kahin mencoba mengubah dan menunjukkan Sumatera Barat dari sekadar sebuah provinsi menjadi cermin retak bagi nasionalisme Indonesia. Melalui cermin ini, ia memaksa kita untuk memikirkan kembali kata-kata suci seperti “integrasi”. Apakah “integrasi” pasca-PRRI merupakan sebuah proses rekonsiliasi yang tulus, dimana aspirasi daerah dirangkul kembali? Ataukah itu hanyalah eufemisme dari sebuah penaklukan politis, dimana sebuah visi yg berbeda dilucuti, dilabeli sebagai ancaman, dan dipaksa untuk tunduk di bawah hegemoni narasi tunggal dari pusat?

Kahin membongkar mekanisme kekuasaan—militer, birokrasi, dan ekonomi—yang bekerja bukan untuk mengintegrasikan, melainkan untuk melakukan penyeragaman serta memastikan bahwa tidak ada lagi imajinasi tandingan yg dapat menantang otoritas pusat.

Untuk pembahasan lebih lanjut, mari kita diskusikan buku ini dalam program Re-reading Komunitas Titian serial EkoSosPol pada:

Hari/Tanggal: Sabtu 27 September 2025
Waktu: 19:30-selesai
Tempat: SaRang Building Blok 2, Kalipakis, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, DIY

Pemantik: Anton Rais Makoginta
Moderator: Paul Kiram

agenda sebelumnya