Dapatkah masyarakat adat membangun ilmu pengetahuannya sendiri?
Ada rasa tidak nyaman yang mendalam ketika kita selalu dijadikan objek penelitian. Rasa itu terus mendorong bahkan mendesak kita untuk keluar dari posisi tersebut dan berupaya berdiri sebagai subjek yang utuh. Dalam berbagai literatur, masyarakat Minangkabau cenderung diposisikan sebagai objek studi. Nilai, kearifan, hingga laku keseharian kita kerap diekstrak oleh peneliti, dengan alasan demi “kemajuan ilmu pengetahuan”. Namun, bagi masyarakat yang diteliti, manfaat dari penelitian itu sering kali kurang dipertimbangkan.
Karya Febri Yulika berjudul “Epistemologi Minangkabau” ini seolah menyampaikan pesan bahwa masyarakat Minangkabau memiliki bangunan ilmu pengetahuan sendiri dan ia mampu berbicara sendiri, tanpa bergantung pada pikiran dari luar. Melalui tiga pertanyaan utama: Apa makna pengetahuan bagi masyarakat Minang, bagaimana cara mengaksesnya, serta bagaimana masyarakat Minang memverifikasi pengetahuan tersebut, karya ini berupaya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Namun, pertanyaannya, apakah upaya karya ini berhasil keluar dari jeratan objektifikasi?
Mari kita bahas bersama dalam serial Falsafah di Komunitas Titian pada:
Hari/Tanggal: Sabtu 15 November 2025
Waktu: 19:30-selesai
Tempat: Sarang Building Blok 2, Kalipakis, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, DIY
Pemantik: A. Rafsanjani
Moderator : Aza Khiatun Nisa