Pernahkah terbayang bagaimana orang asing, dari masa lalu hingga kini, mencoba memahami Minangkabau melalui lensa bahasa?

Lebih 100 tahun lalu, J.C. van Eerde, seorang pejabat pemerintahan Belanda, dalam tulisannya “Minangkabausche Poëzie” (1896), percaya bahwa bahasa adalah cerminan sejati perkembangan suatu bangsa, memungkinkan kita melihat karakter & cara berpikir masyarakatnya—termasuk Minangkabau. Si Bulando ini menulis “Zooals bij alle volken, geeft ook hier de taal eene getrouwe afspiegeling der mate van ontwikkeling en stelt ons tevens in staat een blik te slaan in het karakter en de denkwijze van het volk.” (Sebagaimana pada semua bangsa, di sini [Minangkabau] bahasa juga mencerminkan tingkat perkembangan & sekaligus memungkinkan kita melihat karakter & cara berpikir masyarakatnya.)

Seratus tahun kemudian, Karl G. Heider, seorang akademisi Amerika, dalam bukunya “Landscapes of Emotion: Mapping Three Cultures of Emotion in Indonesia” (1991), turut menegaskan bahwa kata-kata & perilaku adalah cerminan pikiran. Ia meneliti bagaimana orang Minangkabau menggunakan bahasa untuk menunjukkan emosi.

Meskipun terpisah satu abad dengan motivasi yang berbeda (pejabat kolonial vs. akademisi), keduanya memiliki keyakinan yg sama: bahasa adalah kunci untuk memahami cara berpikir suatu kaum.

Diskusi Re-reading MINANGKABAU kali ini akan mengupas BAGAIMANA peneliti-peneliti asing ini memandang, memahami, menganalisis, & menyimpulkan Minangkabau sebagai “OBJEK” penelitiannya pada:

Hari/Tanggal : Sabtu, 14 Juni 2025
Waktu : 19.30 WIB – Selesai
Lokasi : Surau Tuo Institute, JL. Timoho No. 22B, Papringan, Caturtunggal, depok, Sleman.

Pemantik: Inyiak Ridwan Muzir
Moderator: Ilham Armi

Terbuka untuk umum dan gratis.

agenda sebelumnya