Mungkinkah “diri” yang otentik muncul dan tumbuh dalam budaya yang menuntut keseragaman?

Pertanyaan ini menarik untuk ditelusuri melalui sudut pandang Gregory Simon dalam karyanya “Caged in on the Outside-Moral Subjectivity, Self hood, and Islam in Minangkabau, Indonesia”.
Buku hasil penelitianya ini berusaha mencari jawaban tentang Bagaimana subjek Minangkabau di Bukittinggi membentuk diri mereka sebagai agen moral di tengah tarikan antara integrasi sosial yang menuntut konformitas dan hasrat otonomi yang menawarkan kebebasan namun berisiko?

Pertanyaan ini diajukan Simon bukan hanya untuk mendeskripsikan adat, melainkan ia juga mempertanyakan pandangan antropologis lama yang menganggap individu dalam masyarakat non-Barat hanya sebagai robot budaya yang pasif. Simon berpandangan bahwa untuk memahami moralitas manusia, hanya mungkin dilakukan dengan menelusuri ketegangan batin yang dirasa pelakunya, bukan hanya membaca aturan luarnya.

Bagi Simon, karakter Minang justru terbentuk melalui upaya bermanuver di dalam paradoks yang terangkum dalam pepatah “takuruang nak di lua, tahimpik nak di ateh”. Frasa “takuruang nak di lua” menggambarkan kondisi tubuh yang terkurung oleh aturan adat namun batin yang berhasrat bebas mengembara di luar, sedangkan “tahimpik nak di ateh” melukiskan posisi sosial yang terhimpit oleh tekanan komunal namun diiringi hasrat kuat untuk naik ke posisi atas atau nan mulia. Dalam konteks ini, menurut Simon Islam memediasi hasrat ganda ini; agama menyediakan ruang transendensi privat yang memungkinkan seseorang merasa “di luar” dan “di atas” (otonom dan murni di hadapan Tuhan) tanpa perlu merusak “sangkar” integrasi sosial secara fisik.
Namun, benarkah hal tersebut?

Mari kita bahas bersama dalam serial Falsafah di Komunitas Titian pada:
Hari/Tanggal: Jumat 12 Desember 2025
Waktu: 19:30-selesai
Tempat: Sarang Building Blok 2, Kalipakis, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, DIY

Pemantik: Hidayatul Azmi
Moderator : Geri Septian

agenda sebelumnya