Bagaimana jika cara kita memandang ‘adat’ atau ‘tradisi’ sebagai sesuatu yg murni & statis serta terus tergerus oleh derasnya arus modernitas merupakan pandangan yg keliru?

Joel S. Kahn, dalam studinya “Minangkabau Social Formations: Indonesian peasants and the world-economy” mencoba menjelaskan hal ini dengan mengajukan pertanyaan “Bagaimana sesungguhnya formasi sosial petani di Minangkabau dibentuk dan ditransformasikan oleh hubungannya yang tak terelakkan dengan sistem ekonomi-dunia kapitalis?”. Ia membalik logika umum. Alih-allih bertanya bagaimana kapitalisme menghancurkan adat, ia justru fokus pada menjelaskan bagaimana pada diri adat itu sendiri, secara fungsional justru menopang ekspansi kapitalisme itu sendiri.

Dalam mengurai pertanyaan di atas, Kahn menggunakan pisau analisis dari tradisi ekonomi-politik Marxis: konsep “artikulasi cara produksi”. Melalui penelitian lapangannya selama enam belas bulan (1970-1972) di nagari Sungai Pua, Sumatera Barat. Ia menemukan bagaimana dua cara produksi yg berbeda yaitu subsisten berbasis kaum & produksi komoditas kecil untuk pasar bukanlah dua cara yg saling meniadakan, namun dua cara produksi ini berkelindan dalam sebuah hubungan yg kompleks & seringkali eksploitatif.

Melalui perspektif ini, fenomena sosial seperti sengketa tanah, dinamika waris, hingga merantau, tidak lagi terlihat sebagai ‘gejala budaya’ saja. Semua itu bisa dikatakan sebagai manifestasi dari tegangan struktural yg berbanding lurus ketika sebuah masyarakat lokal ditarik ke dalam arena sistem ekonomi-dunia.

Untuk menjawab berbagai pertanyaan di atas serta menjawab “benarkah cara pandang kita atas adat selama ini keliru”, mari kita diskusikan dalam program Rereading Komunitas Titian serial EkoSosPol (Ekonomi, Sosial, Politik) pada:

Hari/Tanggal: Sabtu 13 September 2025
Waktu: 19:30-selesai
Tempat: SaRang Building Blok 2, Kalipakis, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, DIY

Pemantik: Ibnul Hafiz
Moderator: Ilham Armi

agenda sebelumnya