Jika konflik sering dihindari karena sifatnya dianggap destruktif, bagaimana kalau konflik justru dipahami “penyelamat”? Tidak dipahami merobek atau merusak, namun konflik dimaknai dapat merombak sebuah tatanan serta menjadi rahim melahirkan generasi baru yang menonjol dalam sejarah sebuah bangsa.
Inilah pertanyaan utama yang diajukan oleh Jeffrey Hadler dalam penelitianya “Sengketa Tiada Putus”. Buku dari penelitian Hadler ini bukan sekadar babad sejarah Minangkabau, namun sebuah analisis kritis terhadap narasi yang kita anggap mapan, terutama tentang hubungan “adat versus Islam”.
Sudah lama diramalkan bahwa matriarkat Minangkabau tidak akan bertahan sebab digempur oleh puritanisme Islam nan patriarkis itu. Uniknya, Hadler membalik logika lamaran tersebut dengan mengajukan temuannya bahwa Matriarkat Minang selamat dan menjadi kuat justru KARENA diserang.
Sebelum Perang Padri, adat adalah praktik yang dihidupi. Namun, serangan dari kaum Padri yang ingin menggantinya dengan tatanan patrilineal memaksa kaum adat untuk pertama kalinya merumuskan, mengartikulasikan, dan mempertahankan ideologi mereka. Adat berubah dari sekadar kebiasaan menjadi sebuah benteng pertahanan budaya.
“Sengketa Tiada Putus” mengajak kita bertanya kembali: Apa itu tradisi? Apakah ia sesuatu yang murni dan statis, atau justru sesuatu yang terus-menerus dibentuk—misalnya oleh konflik?
Untuk melihat bagaimana cara kerja konflik dalam masyarakat Minang dapat memperkuat kebudayaan mereka seperti yang telah dicatat oleh Hadler, mari kita diskusikan dalam program Rereading Komunitas Titian serial sejarah ini pada:
Hari/Tanggal: Sabtu 26 Juli 2025
Waktu: 19:30-selesai
Tempat: SaRang Building Blok 2, Kalipakis, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, DIY
Pemantik: Khairul Umami
Moderator: Aza Khiatun Nisa