Setelah tiga sesi membahas buku terkait bahasa (A Kingdom of Words karya Jane Drakard, Manners and Meaning in West Sumatra karya Frederick K. Errington, dan Minangkabausche Poëzie & Landscapes of Emotion karya J.C. van Eerde dan Karl G. Heider), sesi ini ditutup dengan Diskusi Legaran bertajuk Metafora Minangkabau, Kekuasaan, dan Kemungkinan.
Menulis dari dalam budaya sendiri kerap seperti berjalan di atas tanah yang telah ditentukan simpangnya. Ada suara-suara yang seperti harus diikuti, ada batas-batas yang tampak sudah lama dipancang. Dalam konteks Minangkabau, warisan bahasa—terutama dalam bentuk petatah-petitih dan sejenisnya—bukan sekadar kekayaan budaya, tetapi juga sistem nilai yang bisa memantik sekaligus membatasi laku kepengarangan.
Percakapan bersama dua narasumber dalam diskusi ini berangkat dari kesadaran atas tegangan itu. Yang satu menelaah puitika Minangkabau sebagai ruang tarik-menarik antara kebaikan—yang merujuk pada norma tertentu—dan keindahan—yang selalu membuka ruang tafsir dan kebaruan. Yang lain mengurai bagaimana petatah-petitih bekerja sebagai penanda, jebakan, atau bahkan medan negosiasi dalam perjalanan menulis sastra kontemporer.
Diskusi ini mengajak kita berpikir lebih jernih tentang hubungan antara bahasa, kekuasaan, dan kemungkinan penciptaan, tentang bagaimana merumuskan kembali posisi kita di dalam budaya sendiri dan berbagai budaya lainnya—dengan kesadaran, kehati-hatian, dan keberanian.
Diskusi Legaran #3 dilakukan pada:
Tanggal: Sabtu, 28 Juni 2025
Pukul: 19:30–Selesai
Lokasi: SaRang Buildings
Pemateri: Raudal Tanjung Banua & Heru Joni Putra
Moderator: Paul Kiram