Perempuan Minang: Kontrol dan Keseimbangan
Apakah kekuasaan mesti diukur dari dominasi atau kontrol? Apakah kerja sama dan penghargaan terhadap nilai-nilai keibuan (maternal) tidak bisa disebut sebagai kekuasaan?
Hal ini yang coba diungkap melalui penelitian tentang masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat, yang dijabarkan dalam buku WOMEN AT THE CENTER: LIFE IN A MODERN MATRIARCHY (2002) karya Peggy Reeves Sanday. Melawan pandangan kuno yang melihat matriarki hanya sebagai fase “primitif” yang digantikan oleh patriarki, Sanday membuktikan bahwa kekuasaan tidak selalu tentang siapa yang memerintah, tetapi bagaimana kita membangun hubungan yang harmonis dan saling menghargai.
Selama hampir dua dekade, Sanday meneliti kehidupan masyarakat Minangkabau, sebuah komunitas yang menjunjung tinggi sistem matriarkat. Di sini, matriarki bukanlah sekadar kebalikan dari patriarki, melainkan sebuah sistem yang mengedepankan keseimbangan gender, kerja sama, dan nilai-nilai maternal. Masyarakat Minangkabau menunjukkan bahwa kekuasaan bisa beroperasi melalui konsensus, pengasuhan (care working), dan penghormatan terhadap ikatan sosial—bukan melalui hierarki atau kontrol.
Definisi matriarki yang hanya fokus pada “perempuan yang memerintah” tidak mencukupi dan sanday menawarkan bahwa dalam budaya Minangkabau, kekuasaan adalah tentang regenerasi, ikatan sosial, dan “tali budi”—sebuah konsep yang menekankan hubungan baik dan keseimbangan dalam masyarakat. Sistem ini menunjukkan bahwa kekuasaan bisa menjadi kekuatan yang mempersatukan, bukan memecah belah.
Hari/Tanggal : Minggu, 16 Maret 2025
Waktu : 19.30 – Selesai
Lokasi : SaRang building
Pemantik: Devi Adriyanti & Khairul Umami
NB : TERBUKA UNTUK UMUM LAGI GRATIS